28.5.13

MAJA DAN MAJALENGKA JAMAN BAHEULA

PENGANTAR
Tulisan dan gambar-gambar yang dimuat dalam paparan di bawah nanti dilacak dari internet sejak 25 Nopember 2010 sekaligus dengan melacak jejak Kerajaan (Ketumenggungan) Talaga, juga sejarah Kabupaten Majalengka dan (sebelumnya) Kabupaten Maja. Tadinya masih ragu-ragu dengan keberadaan Kabupaten Maja dan Sindangkasih versus Majalengka. Dengan pelacakan itu, yakin seyakin-yakinnya (berdasarkan fakta sejarah) apa yang saya gali benar adanya, yakni bahwa Kabupaten Majalengka baru ada sejak adanya Kabupaten Maja (1819). Perubahan Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka (1840) sekaligus pula mengukuhkan keyakinan tidak ada perubahan nama Kerajaan Sindangkasih menjadi Kerajaan Majalengka (zaman Pangeran Muhammad). Juga bahwa kota Majalengka baru ada sejak ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja ke bagian wilayah Sindangkasih, serempak dengan penamaan wilayah Sindangkasih tersebut (khusus yang jadi ibu kota) dengan nama Majalengka seperti nama kabupatennya.
Nama “maja lengka” berasal dari nama kuno yang dipakai (sinonim) untuk menyebut “maja pahit” atau “maja langu.” Maja lengka artinya maja pahit, buah maja yang pahit, karena ada juga buah maja yang manis (maja legi). Lengkit (leng dalam lengkap) artinya sama dengan pahit atau langu. Maja yang pahit itu berenuk (Crescentia cujete). Maja yang manis (maja legi atau maja batu atau Aegle marmelos) bisa dimakan dijadikan sirup, maja yang pahit (berenuk) tidak bisa dimakan, tapi biasa digunakan untuk obat malaria (sebelum kina ditemukan Junghuhn).
Dalam bahasa Sansekerta buah maja itu disebut  “bilva”, sementara pahit disebut “tikta” (lihat kamus Inggris-Sansekerta online). Kata “bilva”  itu berubah jadi “wilwa” dalam tuturan Indonesia-Jawa; majapahit = wilwatikta. Bilva= bael = buah dari Bengali, India. Bilva (bael) sendiri itu maja legi (buah maja yang manis).



Buah maja (maja pahit, maja lengka, berenuk, atau crescentia cujete)
Buah maja legi atau maja batu (stone apple) atau aegle marmelos atau “bilva” (bael)
Keberadaan Kabupaten Maja yang ibu kotanya di Maja itu tidak banyak bukti peninggalan sejarahnya, selain peta dan beberapa lokasi (foto di bawah) yang menyebut itu ada di Maja (Kabupaten–karena tidak berada di Kecamatan apalagi desa Maja). Yang paling meyakinkan hanya alun-alun Maja yang difoto dari arah kantor Kabupaten berikut. Kenapa difoto? Karena ada sudut pandang khas, yaitu bentuk Gunung Bongkok (Gunung Sela) yang sangat amat spesifik.

Alun-alun Maja (Kabupaten Maja) jaman Belanda difoto dari depan Kantor Kabupaten.
Jalan arah ke kiri ke Mesjid Maja — dalam literatur Belanda tertera sebagai berpintu khas -pintu koboy. Yang banyak pedati itu jalan kecil ke kiri ke arah bukit pemakaman, ke kanan akan bertemu lagi dengan jalan raya, di jalan ini tinggal keluarga Yogi S. Memet (mantan Guberbnur Jawa Barat/Mendagri, dan Tuti Hayati Anwar (mantan bupati Majalengka).
Bupati Kabupaten Maja (sampai berubah jadi Majalengka) adalah Raden Tumenggung Dendanegara (1819-1848), yang dipercaya makamnya ada di Gunung Wangi yang oleh penduduk setempat diberi nama  Dalem Kiyai. Jalan raya utama Maja -Cirebon adalah jalan raya Maja (kantor bupati), ke utara, berbelok ke kanan melewati jembatan Cirungkut (Cibuni, Cigede–kata orang Babakan Jawa Maja) melewati Blok Saptu terus ke Cileungsi Paniis, Cicalung, Ciomas, Padahanten, Sukahaji, Rajagaluh, Leuwimunding, Banjaran, Palimanan, Plumbon, Cirebon). Jadi jalan itu akan cocok diberi nama Jalan Raden Tumenggung Dendanegara.
MAJA BAHEULA
Ini benar-benar sejarah, yang selalu dan selalu akan dalam pelacakan, dan sepotong-sepotong. Sejarah ini khusus berisikan rekaman-rekaman peristiwa masa lampau, termasuk foto-foto, dari Kabupaten Majalengka.  Nah, silakan “masuk”  jika punya informasi tambahan.
PABRIK TEH ARGALINGGA
Sekali pernah tertemukan foto jaman baheula (jadoel) rumpun bamboe (bamboedos) di Argalingga. Yang memotret Urang Walanda, tentu. Artinya itu foto jaman ketika Belanda masih sedang bercokol di Indonesia. Menarik. Kenapa hanya rumpun bambu saja kok difoto?
Itu barang aneh bagi orang Belanda, tentu. Di Belanda tidak ada pohon bambu, soalnya. Di Inggris ada sih pohon bambu raksasa, sangat amat besar sekali, bambu besar kehijauan bergaris-garis putih, tapi cuma dalam “kurungan tenda kaca” berpemanas ruangan yang tembus pandang. Lupa-lupa ingat tempatnya, kayaknya di Kebun Raya Inggris yang bernama Kew Garden. Di situ ada juga ikan kancra yang bukan main gedenya. Jelas bukan kancra dari Maja. Hehehe. Ikan kancra Maja mah “karecil,” da sudah agak besar sedikit aja, langsung dijual. Butuh duit, gitu. Mending kalau terjual, kadang kala “dipalingan ku batur,” dan dimakan “sero.” (Wah, kok tidak ada foto “kokolotokan” di pancuran “balong”, ya!)
Foto bambu karya orang Belanda itu jadi mengingatkan pula pada bahwa pada jaman Belanda akhir di Argalingga itu ada perkebunan teh. Orang Belanda mendirikan pabrik teh di Argalingga, dan tentu tinggal di situ (sejuk sih, kayak di Belanda), dan jadilah memotret bambu yang ada di situ, sebagai sesuatu yang menarik. Perkebunan teh itu sekarang tinggal bekas-bekasnya saja. Konon kata yang sering mendaki Gunung Ciremay lewat jalur Apuy, bekas perkebunan itu sudah jadi kebun sayur mayur.
RUMPUN BAMBU DI ARGALINGGA 1920
Rumpun bambu di Argalingga [foto 1920; koleksi Tropenmuseum]
Melacak kembali “sejarah” pabrik teh Argalingga itu ternyata tidak mudah. Sudah dicoba dengan bahasa Ingggris, tak ada. Dengan bahasa Belanda, walau saya tak banyak paham tentangnya, hanya satu dua kata saja, juga susah sekali. Saya coba lacak karena ternyata foto-fotonya, alhamdulillah, ada beberapa yang bisa ditemukan.
Andaikata saya Bupati Majalengka, saya akan “rekonstruksi” kembali pabrik itu, walau dengan modal besar, untuk jadi objek wisata sejarah. Jangan sampai ditelantarkan seperti pabrik gula Kadipaten dan Jatiwangi. Mestinya dipelihara sebagai peninggalan sejarah. Jadikan “suaka purbakala” walau tidak terlampau “kuno”–untuk masa sekarang, untuk nanti di kemudian (50 tahun kemudian), itu akan jadi sejarah benar-benar.
Di Talaga terlacak, dalam bahasa Belanda, ada pabrik teh Tjareng. Ada “amtenar” Belanda yang pernah tinggal di situ dan keluarganya berceritera di internet. Belum terlacak ceritera lanjutnya, apalagi foto-fotonya. Jadi, yang di Argalingga ini termasuk istimewa, masih bisa terlacak.
Nah, wajah pabrik teh Argalingga itu seperti ini.
Gedung pabrik teh di Argalingga, Maja, Cirebon
Di mana kira-kira letak pabrik itu? Nah, yang dekat Argalingga mestinya bisa lebih tahu. Saya kuatir tidak ada lagi bekas-bekas apapun. Tapi, siapa tahu? Mungkin bekas-bekas fondasinya masih ada.
Seperti apa keadaan bagian dalam pabrik teh Argalingga itu? Ini sebagian daripadanya.
Ruangan dan mesin pengeringan teh di pabrik teh Aggalingga
MAJA (KABUPATEN MAJA?) BAHEULA
Tidak banyak yang diketahui tentang Maja (atau Kabupaten Maja) baheula. Saya harus menggunakan istilah Kabupaten Maja karena foto-foto yang terlacak dari koleksi Tropenmuseum ini tidak seluruhnya saya kenal ada di Maja (desa) atau Maja (kecamatan– sebelum dipecah dua menjadi Maja dan Argapura).
Kabupaten Maja Versus Kabupaten Majalengka
Nah, supaya sambung ihwal Kabupaten Maja dan Majalengka, berikut paparannya.
1. Kabupaten Maja dan Ibukotanya
Mulai tanggal 5 Januari 1819 nama Maja dijadikan nama kabupaten (Kabupaten Maja), yang bersama-sama dengan Kabupaten Cirebon, Bengawan Wetan (Palimanan/Indramayu selatan?), Kuningan, dan Galuh (Ciamis), berada di dalam (termasuk ke dalam) Karesidenan Cirebon (Residentie van Cheribon). Tanggal 5 Januari 1819 itu pembentukan Karesidenan Cirebon dengan keregenan seperti disebutkan di atas.Kabupaten Maja itu mencakup wilayah (yang mungkin tadinya “regenschaft–kemudian jadi distrik) Maja, Sindangkasih, Talaga, Rajagaluh, Palimanan dan Kedondong.
Diduga ibu kota Kabupaten Maja itu “kota” Maja juga. Lihat peta “Kabupaten/Regenschaft Madja” dan analisis di bawah! Sesuai peta, hanya ada dua pilihan untuk disebut ibu kota: Maja atau Talaga. Maja lebih rasional: Nama kabupatennya Maja, ibu kotanya juga Maja. Bengawan Wetan selanjutnya tampaknya bergabung jadi Maja, sementara Indramayu “wilayah partikulir” mulai masuk ke dalam Karesidenan Cirebon (lebih tepat Bengawan Wetan yang ada di utara Cirebon sekitar Gegesik –bukan Palimanan — jadi Indramayu atau Cirebon–Lihat peta berikutnya).


Peta Kabupaten Maja. Batas utara “postweg” (jalan raya) Karangsambung  – Jamblang), batas timur garis membelah Ciremay (Jamblang – “regenschaft” Talaga), batas selatan garis di bawah “regenschaft Telaga,” batas barat garis tebal perbatasan Karesidenan Cirebon dan kabupaten Sumedang.  Ada dua nama kota di dalamnya: Maja dan Talaga
Peta Wilayah Cirebon sebelum ada Kabupaten Maja

2. Perubahan Nama Kabupaten: Maja Menjadi Majalengka
a. Legalitas
Mulai 11 Februari 1840 nama Kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka. Besluitnya berbunyi:
Verandering van den naam van het regentschap Madja (residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka.
“Verandering” [perubahan] “van de naam” [nama] “van het regentschap Madja (residentie Cheribon)” [keregenan/kabupaten Madja (karesidenan Cirebon)], “alsmede” [sekaligus juga] “van den zetel van hetzelve” [tempat kedudukannya], “thans genaamd Sindang-Kassie” [yang saat sekarang ini bernama Sidangkasih],” in dien van Madja-Lengka” [untuk selanjutnya (diberi nama) Majalengka).

Ibu kota,  yang dalam bahasa besluit disebut "tempat kedudukannya" (den zetel van hetzelve), yaitu kedudukan keregenan atau pemerintahan Kabupaten Majalengka yang "sekarang ini" (bahasa Belandanya "thans," alias pada saat itu) bernama Sindangkasih ["thans genaamd Sindangkassie") diubah nama juga menjadi  Majalengka.

Peta Junghuhun (potongan). Sindangkasi sama dengan Majalengka. Perhatikan pula tulisan "aardolie" (minyak bumi--eksplorasi minyak bumi pertama di Indonesia) yang ada di antara Sungai Cimanglet (Cilongkrang?) dan Cibodas) yang bermuara ke K-Leeton (Cilutung)
Jika merujuk peta "Kabupaten Maja" di atas, dan peta kota Sindangkasih (Majalengka) Junghuhn di atas, itu berarti bahwa semula ibu kota Kabupaten Maja itu di Maja, bukan di Sindangkasih. Banyak orang menduga, dari membaca besluit yang sama yang menyebut nama Sindangkasih sebagai tempat kedudukan keregenan yang kemudian diubah menjadi Majalengka seiring perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Majalengka itu, ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih. Bahkan ada yang menyebut Kabupaten Majalengka itu sama dengan  Kabupaten Sindangkasih (suka ditulis Kabupaten Majalengka atau Sindangkasih---salah besar, tidak ada nama Kabupaten Sindangkasih).
Maja dipilih sebagai ibu kota kabupaten diduga karena hawanya yang sejuk. Bagi orang Belanda kesejukan itu perlu dan penting, sesuai dengan iklim daerah asalnya. Lebih-lebih karena bisa pula "naik gunung" ke Argalingga mencari udara yang lebih dingin.
Tampaknya (hipotetis) ada pemikiran pada Pemerintah Belanda ketika itu untuk memindahkan ibu kota Keregenan Maja itu ke tempat lain, yang lebih "datar" sehingga lebih luas untuk pengembangan kota. Maja tidak representatif untuk dikembangkan jadi kota karena berbukit-bukit. Tempat yang terpilih berada di "wilayah Sindangkasih" (bukan desa Sindangkasih sekarang, tapi termasuk bagiannya). Salah satu pertimbangannya pasti ada jalur jalan (dari Karangsambung menuju ke Maja, Talaga, dan juga Kawali--lewat Sindangkasih sekarang, lalu melalui Kulur, Cieurih, Pasanggrahan, Anggrawati dst.).
b. Sindangkasih versus Majalengka
Seiring dengan perubahan tempat ibu kota, bukan di Maja lagi, maka nama kabupaten itu perlu diberi nama baru. Jika menggunakan nama "daerah yang baru" (Sindangkasih), akan bertabrakan nama dengan banyak nama Sindangkasih (Karawang, Ciamis, Beber Cirebon). Lalu dipilih tetap menggunakan nama Maja, akan tetapi harus ditambahi "tambahan kata" agar tidak tabrakan dengan nama Maja yang sudah tidak jadi ibu kota lagi.
Hipotetis: Setelah berdiskusi, tertemukanlah kemudian nama "Majalengka" dari para ahli yang tahu babad Majapahit. Majapahit (kerajaan) itu suka juga disebut Majalengka. Majalengka sama makna dengan majapahit. Dalam bahasa Sansekerta kerajaan Majapahit itu suka disebut juga Vilvatikta atau Wilwatikta. Vilva (wilwa atau bilwa) itu buah maja; tikta artinya pahit. Nama Majapahit sudah jauh lebih populer dibandingkan nama aliasnya, yaitu Majalengka. Dengan kata lain, nama Majalengka dalam berbagai "literatur" sudah tidak digunakan untuk menyebut nama Majapahit. Maka, karena ada persamaan ihwal buah maja (yang pahit itu), digunakanlah nama itu. Akhirnya, jadilah, per 11 Februari 1840 berdiri "kota" Majalengka sebagai ibu kota ("tempat kedudukan keregenannya" atau "den zetel van hetzelve") yang baru dari Kabupaten Majalengka, yang semula termasuk wilayah Sindangkasih.

Dengan kata lain, daerah "tempat kedudukan pemerintahan"  Majalengka yang bernama Sindangkasih itu, dipisahkan dari desa Sindangkasih semula. Bahasa lainnya, desa Sindangkasih dimekarkan menjadi ada Sindangkasih dan ada Majalengka. Ini seperti Kecamatan Majalengka dulu yang sekarang dimekarkan menjadi Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Tampaknya begitu.  Lihat juga peta "kota" Sindangkasih (Majalengka) versi Junghuhn (1860-an) di atas, disajikan pula di bawah berikut. Tertulis:  Sindanglasi (Madja Lengka). Maksudnya, tadinya Sindangkasih, sekarang menjadi  Majalengka.

Desa ("Kota")  Sindangkasih (tempat kedudukan kebupatian yang baru) berubah nama menjadi desa ("kota") Majalengka
tahun 1840 (dipetakan Junghuhn  tahun 1860)
Jadi, desa (kota) Majalengka itu berdiri dengan besluit (surat keputusan) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 11 Februari 1840, sebagai nama pengganti dari nama semula Sindangkasih (bagian dari desa Sindangkasih).
"Kampung Sindangkasih" asli  (di posisi desa Sindangkasih sekarang) kemudian dijadikan tempat kedudukan pemerintahan desa Sindangkasih yang baru sampai sekarang. Tampaknya urutan sejarahnya demikian. "Desa" (kota) Majalengka kemudian (belum terlacak tahunnya) dimekarkan lagi menjadi Majalengka Wetan dan Majalengka Kulon. Seperti desa Maja yang dimekarkan menjadi Maja Kaler dan Maja Kidul.
c. Maja atau Talaga Sebagai Ibu Kota Kabupaten Maja
Di bawah ini--seperti telah disinggung di muka--peta "Kabupaten Maja" (benar-benar tertulis Madja) dengan dua kota besar saja yang ada di dalamnya, yaitu Madja dan Telaga. Walau dibuat tahun 1841 dan diterbitkan 1842, tampaknya perubahan pada tahun 1840 (Maja menjadi Majalengka, dan Sindangkasih menjadi Majalengka) itu belum sampai pada pembuat peta, sehingga masih bernama Madja dan ibu kotanya belum Sindangkasih (Madjalengka).
Perhatikan garis jalan raya (yang tertulis "Post ...... Weg") dari Karangsambung ke Jamblang yang menjadi batas utara Kabupaten Maja. Dari Jamblang naik ke Gunung Ciremay menembus sampai dengan "regenschaft" Telaga (tulisan besar dekat garis), terus ke barat ke perbatasan Karesidenan Cirebon dengan Karesidenan Priangan ("Kabupaten Sumedang")--garis tebal yang ada warna pink.
Dari "postweg" (jalan raya) Karangsambung ke selatan (bawah peta) tidak ada "kota" apapun (Kadipaten, Sindangkasih atau Majalengka). Hanya ada dua lingkaran kecil dengan masing-masing bertuliskan "Madja" dan "Telaga." Itu sebabnya dapat disimpulkan bahwa ibu kota Kabupaten Maja itu  Maja, bukan Sindangkasih. Tidak logis juga jika ibu kotanya Talaga, karena tak tersebut-sebut dalam besluit ada perpindahan ibu kota (tempat kedudukan kebupatian atau keregenan) dari Talaga ke Sindangkasih. Ibu kota Maja tidak disebut, karena tampaknya dianggap otomatis tersirat dalam nama Kabupaten Maja. Dalam besluit disebut dengan kata "thans" (yang sekarang ini--saat "dipindahkan"), bukan yang tadinya atau dahulunya ("vroeger" atau "eerst") bernama Sindangkasih.
Kabupaten Maja, peta tahun 1842 dengan dua kota:  Maja dan Talaga
3. Maja-Lumaju: Loh-maja
Ibu kota Kabupaten Maja, seperti telah disebutkan di atas,  kalau tidak Maja ya Talaga. Talaga itu adanya di (semula) "regenschaft Telaga" seperti tampak dalam peta (di bawah nama "kota" Telaga), dan disebut-sebut pula keberadaanya dalam batas-batas wilayah Kabupaten Maja (tercakup ke dalam Kabupaten Maja) dalam besluit pendirian Karesidenan Cirebon yang salah satu kabupatennya Maja (5 Januari 1819).
Ada dua "regenschaft" yang disebut-sebut dalam batas-batas wilayah Kabupaten Maja dan lainnya, yaitu "regenschaft Rajagaluh" dan "regenschaft Talaga." Tampaknya itu pengakuan akan adanya wilayah eks" ketumenggungan ("kerajaan" bagian dari Kerajaan Galuh/Pakuan-Pajajaran) di situ.
Perhatikan peta Junghuhn di atas. Ada jalur jalan raya dari "Cirebon" sampai Maja, dan tidak terus ke Talaga. Jalur jalan dari Majalengka ke  Maja dan Talaga pun kecil saja (garis tunggal). Itu artinya Maja memang ibu kota Kabupaten Maja, bukan Talaga. Residen Cirebon jika akan inspeksi ke Kabupaten Maja ya datangnya akan ke Maja, bukan ke Talaga.
Jika ibu kota Kabupaten Maja itu Maja, maka dapat dianggap juga bahwa adanya "kota" (desa) Maja secara yuridis-formal sebagai ibu kota Kabupaten--sementara, sebelum sejarahnya terlacak lebih jauh--itu mulai tanggal 5 Januari 1819.
Andaikata nama Dalem Lumaju Agung itu mengikuti nama kampung atau wilayah, seperti Dalem Jero Kaso yang disebut demikian karena memimpin kampung Jero Kaso Maja, maka desa (daerah) Maja itu dulunya bisa jadi bernama desa Lumaju. Kata Agung (Ageng) merupakan tambahan kepada gelar Dalem, karena Dalem Lumaju benar-benar agung. Jadilah sesebutannya (bukan nama aslinya) "Dalem" (yang memimpin daerah kadaleman) "LUMAJU" yang "agung" (Dalem Lumaju Agung/Ageng). Dari asal mula bernama "LUMAJU," lama-lama berubah menjadi MAJA. Jauh juga, ya! LUMAJU, LUMAJA!
Stop: Bisa jadi nama Lumaju itu asal mulanya "LOH MAJA" (tanah daerah yang banyak ditumbuhi tanaman maja). Maja atau berenuk? Silakan baca: "Maja ta Berenuk?" dalam page Bongkok-Ciremay. Ini seperti "Loh Asri" yang lalu menjadi "Losari."  Kata Lohasri ke Lohsari, lalu ke Losari itu dekat sekali. Tetapi "lohmaja" menjadi "lumaju" memang agak jauh. Tapi, jauhan mana "Hujung Barang" kata Bujangga Manik (Prabu Jaya Pakuan) menjadi "Ujung Berung" kata urang Rajagaluh, dengan "loh maja" menjadi "lomaja" menjadi "lomaju" menjadi "lumaju." Coba tuliskan kata "lohmaja" itu dengan aksara pegon (Arab-Sunda-gundul alias tanpa syakal). Akan tertulis "lam-wawu-ha" (maunya "loh" bisa terbaca "luh"). Lalu "maja" akan dituliskan "mim-alif (panjang) dan jim" (maja, bisa juga maju).
Atau kita kembalikan saja nama Dalem Lumaju Agung itu ke "khiththahnya." "Maja" kembali ke "Lohmaja (Lomaja)," sehingga "Dalem Lumaju Agung" menjadi "Dalem Lohmaja (Lomaja) Agung." Keun siah, urang Maja dibikin parusingeun ku uing tah si urang Babakan Jawa Maja. Komo "urang Sindangkasih" mah!
Di mana "bekas-bekas" kantor Kabupaten Maja? Saya "curiga" dengan bangunan selatan alun-alun Maja yang pernah dipakai markas tentara Diponegoro (Batalyon 476) yang membangun "tugu" di depannya sekitar tahun1958 ketika sedang "perang" dengan DI/TII. Mungkin juga bangunan itu pernah dijadikan markas tentara Belanda ketika perang "actie I" yang salah satu peletonnya bermarkas juga di Argalingga (mengawasi perkebunan tebu?--jangan-jangan yang dimaksud perkebunan teh). Tentang ini silakan baca di bawah.
Bangunan dimaksud pernah dipakai oleh SPP-SPMA Kabupaten Majalengka di Maja. [Cik atuh, nu kagungan fotona jaman baheula, kintunkeun ka Mang-Tatang-UNY!]
Kantor bupati itu jangan dikira sangat mewah seperti istana. Ini contohnya di bawah: rumah Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja (1915-1922) yang juga amat sederhana saja (dilihat dari kaca mata sekarang). Jika yang tahun 1920-an saja seperti itu, tentu lebih-lebih lagi bangunan tahun 1819-1840.
Rumah Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja 1915-1922
Sekali Lagi Tentang Sindangkasih
Agar adil, tidak mengadili dengan “tak sengaja,” Februari 2011 ini tertemukan peta Belanda kuno juga. Di dalamnya ada Sindangkasih, walau tulisan tepatnya tidak begitu jelas, tapi tetap bisa diduga itu Sindangkasih. Hanya saja, dari letaknya tidak begitu jelas ini Sindangkasih mana, Beber, ataukah Majalengka?
Lihat perbandingannya dari Karangsambung di sebelah kanan pnadnagan kita pada peta. Di kiri atas ada juga Kuningan. Di sebelah atas Sindangkasih ada nama “kota” juga, tapi tak jelas apa. Tidak tampak tertulis seperti “Telaga.”
Ini peta besarnya, saya krop (potong) yang berkaitan dengan Cirebon saja.
Peta Wilayah Cirebon
Lihat gunung Ciremay (De berg “Sirmeij”). Turun ke bawah ada titik berwarna merah, di bawah Ciremay, di atas bukit-bukit, dengan tulisan menegak ke atas. Itu Sindangkasih. Ada titik merah pula di sebelah kanan Ciremay. Tidak jelas tulisannya (itu ternyata Cikro -Cikeruh).
Lihat di sebelah kanan ada Gunung Tampomas (Berg Tampomas). Itu wilayah Sumedang (District Sammadang). Ada sungai besar. Di situ ada Karangsambung. Tarik jalan ke arah kiri, itu ke timur. Berapa jauh dari Karangsambung (Kadipaten) ke Sindangkasih? Mungkinkah itu Sindangkasih Majalengka?
Agak susah? Ini potongan lebih khusus agar lebih jelas.
Peta Sindangkasih
Nah, sekarang agak lebih jelas. “Tetenger”-nya De Berg Sirmeij (pasti gunung Ciremay). Di bawah gunung Ciremay ada perkebunan jati. Ada sungai langsung dari Ciremay, ini nantinya bergabung ke Cimanuk (dari Sammadang). Ada bukit-bukit di paling bawah peta. Ada titik merah. Itu Sindangkasih (tertulis Cundang Kassi). Di atasnya, di hulu sungai agak ke kanan, ada titik merah juga. Itu yang tidak jelas kota apa.
Di sebelah kanan, dekat sungai Cimanuk, ada Karangsambung (bawah jalan, kanan sungai) dan di atas jalan kanan sungai ada Jatiraga. Atas kiri, kiri Ciremay ada titik merah juga. Itu Kuningan. Bukit-bukit di bawah itu tidak jelas bukit apa. Sindangkasih ada di sebelah timur sungai, itu kemungkinan besar Cikeruh. Jadi, Sindangkasih itu Majalengka atau? Ini pembesaran peta di atas.
Di peta berikut baru jelas itu yang disebut Cundanglassi (Sindangkasih?) itu di mana. Berada di sebelajh timur sungai Cikeruh. Bisa jadi, jika memang sudah ada sejak baheula, itu Sindanghaji Leuwimunding, tadinya Sindangkasih (?!) Hanya saja tidak terpahami kenapa sungai Cikeruh berasal dari timur gunung pegunungan Ciremay, dan Cundanglasi ada di utara jalan raya, Sindanghaji ada di selatan jalan raya. Sindangkasih Beber? Mungkin juga.
KERAJAAN SINDANGKASIH HANYALAH SEBUAH DONGENG LEGENDA
Berbasiskan sejarah pendirian kota Majalengka yang semula berasal dari “desa” (kampung bagian dari desa) Sindangkasih, sekian tahun kemudian tampaknya dibuatlah sebuah dongeng (“ngabobodo nu cengeng”), mirip sebuah legenda. Yang dijadikan objek dongeng adalah perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka, dengan “keanehan” nama maja lengka yang oleh orang Majalengka “modern” tidak dikenal. Dicari direka-rekalah bahwa nama itu berasal dari kata “maja” (buah maja) dan bahasa cirebonan “langka” (beli ana) yang diubah manja jadi hilang (ngahiang), padahal  hilang (“leungit”–Sunda) itu bahasa cirebonannya “ilang.”
Versinya menjadi: (1) Kerajaan Sindangkasih dengan buah (hutan) majanya “langka” (hilang); dan (2) buah maja yang diperebutkan yang kemudian “langka” (hilang).
Kapan hilangnya Kerajaan Sindangkasih (dan berdirinya Kerajaan Majalengka), konon ditengarai dengan candrasakala “sindang kasih sugih mukti” yang nilai angkanya  sindang  2, kasih 1, sugih 4, dan mukti 1 (tahun  Jawa/Saka). Ini dibaca dari belakang menjadi 1412.  Jika dialihkan ke Masehi harus ditambah 78 jadi 1412+78 = 1490 (klop). Jika menggunakan tahun Masehi, maka angkanya menjadi sindang 0, kasih 9, sugih 4, mukti 1, dibaca terbalik jadi 1490. Nah, para ahli “sengkalan” bisa menyebutkan mana yang benar, tentu sambil harus tahu dulu apa itu makna kata “sindang” (jelas bukan bahasa Sunda yang berarti mampir, ada kemungkinan sinonim dengan sendang, sedang, sedong, atau situ). Juga makna “kasih”. Apakah bahasa Sunda modern mengenal kata kasih? Yang ada asih. Ada juga “kakasih” (yang mungkin serapan dari basa Indonesia kekasih). Jdi, pasti bahasa Sunda buhun (yang relatif banyak kesamaan dengan Jawa). Di Jogja ada nama kecamatan Kasihan yang terkenal dengan desa Kasongan (sentra kerajinan keramik). Orang Cirebon lama sudah kenal dengan nama Ki Gedheng (Gedhe = Agung, ing = di/dari) Sindangkasih (Sedhangkasih) yang punya anak Nay (Nyi) Ambet Kasih.
Yang aneh adalah candrasangkal itu lazimnya menunjukkan peristiwa tertentu yang cocok, misalnya runtuhnya Majapahit ditengarai dengan sengkala sirna ilang krtaning bumi yang sama dengan sirna 0, ilang 0, krta 4, dan bumi 1. Dibaca terbalik menjadi 1400 Saka. Masehinya 1400 + 78 = 1478. Runtuhnya majapahit itu sama dengan hilang musnahnya kesejahteraan di bumi (majapahit). Nah, hilangnya sindangkasih justru terbalik dicandrasangkali, yaitu menjadi sugih mukti. Kebohongan candrasangkala, alias candrasangkala itu tidak pernah ada. Harusnya yang sugih mukti itu Maja Lengka, jadi Maja Lengka Sugih Mukti, karena Sindangkasih sudah tidak ada, sudah berganti jadi Majalengka (karena majae wis langka–konon sejak itu ada nama Majalengka–gantinya Sindangkasih!!!!)  Tapi tak cocok dengan tahunnya!!!!!!  Jadi. ayamku?!! Hehehe…. Kasihan benar tuh “slogan” Sindangkasih Sugih Mukti dalam lambang Ma jalengka. Ganti saja, lah, malu-maluin anak cucu yang sudah intelektual (Jangan lupa, sudah banyak doktor dan profesor asli urang Majalengka, dan pasti akan bertambah banyak lagi!!!!)
FOTO-FOTO DI KABUPATEN MAJA/MAJALENGKA
Pertama, sungai Cikeruh. Ini di bagian mana? Tak tahu saya. Bisa jadi di dekat jembatan Sukahaji-Rajagaluh. Kedua, desa atau wilayah Sindangpalay, belum sempat saya lacak di mana. Foto-foto kuno jaman Belanda ini menyebutnya berada di derah “Madja.” Jadi, ada kemungkinan mengapa nama Kabupaten Majalengka sekarang itu awalnya Kabupaten Maja, karena nama Maja lebih populer di masyarakat dan pemerintah Belanda karena ada pabrik  teh di Argalingga, dan kemungkinan mereka juga banyak berdiam di lereng Ciremay  yang bernama “Maja” itu, entah di bagian mana, karena lebih dingin, lebih cocok untuk mereka. Curug Apuy juga lebih dikenal dengan nama Curug Maja, kan? Padahal di Apuy (di peta Belanda ditulis Apai, sementara Argalingga malah tidak dipetakan). Basa Sunda lawas (Kawi) “apuy”  di nusantara bagian lain disebut  apoy  dan api; bahasa Kawi “nirapuy” = tak berapi.
STOP: Maja lebih dikenal karena ada pabrik teh di Argalingga, salah! Hehehe. Kabupaten (Regensi) Madja berdiri 1819, ganti jadi Madjalengka 1840, pabrik teh Argalingga 1900-an. (Baca “Sejarah Majalengka: Melacak Jejak Hindia Belanda” di blog ini juga, di situ ada surat keputusan asli berbahasa Belanda dari literatur berbahasa Belanda tentang Regensi Madja dan Regensi Madjalengka!). Mungkin karena di wilayah “Maja” itu banyak sekali “dalem” dari “Kerajaan” Talaga (Katumenggungan Talaga, sebagai bagian dari Kerajaan Galuh atau Pakuan Pajajaran).
Nah ini “gawir” (tepian terjal sungai) Cikeruh. Bandingkan ketinggian dan kebesarannya dengan “mandor Belanda” yang berfoto di situ.
Gawir tepian terjal sungai Cikeruh, Maja, Cirebon “yang gundul.” Foto tahun 1930-an, koleksi Tropenmuseum.
Di bawah ini juga tepian sungai Cikeruh, sisi yang lebih landai. Sayang seberapa lebar dan dalam sungai Cikeruh tidak tergambarkan. Jika ada gambaran lebarnya dan kepenuhan airnya, maka patut diduga bahwa “urang Talaga” jaman Kerajaan Talaga masih ada itu jika ke Cirebon pasti “berlayar” di sungai  Cikeruh melalui “bandar sungai” (bahasa Belandanya “fort”) Palabuan. Nah, Palabuan ini belum terlacak jejaknya kenapa disebut Palabuan (yakin pasti “palabuan parahu” sungai Cikeruh). Tomo sudah terlacak dalam peta Belanda disebut Fort Tomo (pelabuhan–bandar sungai–Tomo), dekat desa tempat penyebrangan (menyeberangi sungai Cimanuk) yang bernama Karangsambung (disebut dalam besluit pembentukan Karesidenan CVirebon, 1819).
Tepian sungai Cikeruh, Maja, Cirebon “yang gundul.” Koleksi Tropenmuseum.
Di bawah ini foto lembah Sindangpalay, Maja, Cirebon. Sekali lagi, memang disebut di Maja, bukan di regensi Majalengka. Di mana itu, belum tahu. Sindangpalay atau Sindangpala? Tunggu, judul aslinya sebenarya “Sindangpalai-rug bij Madja,” alias tonggong (geger) Sindangpalay dekat Maja. Tampaknya, dari bacaan lainnya, foto ini ingin menunjukkan “pasir bulistir” (bukit gundul) yang ada di Sindangpalay  (Kabupaten) Maja atau Kabupaten Majalengka sekarang. Sindangpalay itu Sindangpala yang ada di Talaga sekarang?.
Lembah (Tepatnya “Geger”) Sindangpalay (Sindangpala, Talaga?), Maja, Cirebon “yang gundul.” Koleksi Tropenmuseum.
Berikut foto jalur lewat hewan yang akan mandi (“guyang”) di sungai, juga di Sindangpalay, Maja, Cirebon. Juga menunjukkan kerusakan alam akibat dipakai turun naik hewan.
Kerusakan karena jadi jalur “guyang” hewan-hewan di Sindangpalay, Maja, Cirebon. Koleksi Tropenmuseum.
Foto berikut menunjukkan lembah sungai Cisuluheun, mungkin di daerah sekitar Nunuk, Maja. Sama juga, sebenarnya menunjukkan “pasir bulistir” alias bukit gundul di atas sungai Cisuluheun. Sungai Cisuluheun itu anak sungai Cilutung. Hulu sungai Cilutung itu di Talaga, mengalir melalui Nunuk juga, bermuara di Cimanuk. Cisuluheun di mana ya hulunya? Dekat Cilutung Talaga ada sungai Cibodas dan kampung Cibodas. Di situ (Cibodas, desa/”dessa” Maja, Kecamatan/”district” Maja, Kabupaten/”Regensi” Majalengka “baheula”) tahun 1870-an pertama kali di Indonesia dilakukan pengeboran minyak, dengan “mesin” tenaga hewan. Lihat peta Junghuhn yang ada tulisan “aardolie” (minyak bumi) dekat sungai Cibodas.

Lembah Sungai Cisuluheun (daerah Nunuk, Maja ?), Anak Sungai Cilutung yang Panjangnya 10 km.;
Foto Jaman Belanda; Koleksi Tropenmuseum
PABRIK GULA KADIPATEN DAN LAINNYA
Pabrik gula Kadipaten kini (2010) sudah tidak ada lagi. Bangunannya sudah menjadi bangunan “ajang penampakan.” Dulu seperti apa? Ini beberapa “sejarahnya.” Termasuk ada satu pabrik gula dekat Gunung Kromong, tak tahu di sebelah mana. Kapan-kapan dilacak (tampaknya Gempol, Palimanan–namanya Panbrik Gula Parungjaya).
Nah, ini foto kuno (1893) para “amtenar” pabrik gula Kadipaten berfoto bersama selesai melakukan perburuan. Di belakangnya tampak “urang Kadipaten” padajongkok.
Foto bersama setelah berburu, para amtenar Pabrik Gula Kadipaten, tahun 1893.
Foto di bawah ini memperlihatkan seorang wanita sedang berada di bawah tenda taman di kompleks perumahan dinas pabrik gula Kadipaten, tahun 1890-1910
Seorang Wanita Belanda Di Bawah Tenda Taman Rumah Dinas, 1890-1910. Koleksi Tropenmuseum.
Pabrik Gula Kadipaten dilihat dari udara (atas asli; bawah sudah dikrop)
Pesta arak-arakan memulai giling tebu pabrik  gula Kadipaten
Dari Cirebon ke Bandung tahun 1920-an ada autobis lewat Kadipaten. Ini fotonya.


Pata Jalan Raya Pos (Postweg) buatan Daendels 1808 Melewati Kadipaten Parapatan Jamblang
(batas utara Kabupaten/Regenschaft Madja 1819-1840)
Pesawahan di daerah Kadipaten (1920-1933) , di latar belakang Gunung Ciremay
Jalur kereta api Cirebon- Kadipaten (tidak diketahui di daerah mana)
Selain di Kadipaten dan Jatiwangi (foto-fotonya belum terlacak) di Gempol, Palimanan (dekat Gunung Kromong) ada juga pabrik gula Parungjaya. Ini fotonya.

Gunung Kromong dan Pabrik Gula Parungjaya Masa Belanda
Nah kalau yang ini rumah sakit Cideres (foto “ditemukan” 8 Februari 2011).
Rumah Sakit Cideres, 1908 (Punya “Zending,” tapi di pintu ada tulisan “Allah”)
MAJALENGKA “KEUR BAHEULA” (TEMPO DULU)
Nah, ini dia wajah Majalengka tempo dulu, jaman baheula. Pertama, kita lihat “aloen-aloen Madjalengka.” Lucu juga ya, jauh berbeda dari sekarang. Cuma, itu di latar belakang gunung apa? Seperti Gunung Bongkok. Tapi apa iya seperti itu dilihat dari Majalengka? Ini memotretnya  dari arah mana? Atau, ini alun-alun di mana? Apa alun-alun Majalengka sekarang? Masih banyak pedati, ya? Tuh sedang parkir berderet-deret.
Jangan-jangan ini sebetulnya “aloen-aloen Madja” ketika masih jadi ibu kota Kabupaten Madja yang berubah jadi Madjalengka. Pembuat nama bisa salah. Ini difoto dari arah selatan. Jalan ke kiri (barat) itu ke mesjid Maja. Pedati berderet itu di jalan kecil utara laun-alun Maja sekarang, lupa nama jalannya (munkin Dalem Rancucuk atau Dalem Kulanata), kalau arah ke kirinya Jalan Ketib Anom. Jalan berpedati itu sambungnya ke kanan ke rumah keluarga Yogi Memet, melalui SDN Maja III (lalu jadi SMPN Maja). Jalan di tengah itu sekarang jadi jalan raya Maja-Majalengka/Talaga. Bangunan di belakang pedati itu dulu Poliklinik Maja dan Koramil. Di bagian depannya toko keluarga Aziz (ayah Fuad mantan kuwu Maja).Foto tampaknya diambil dari halaman agak barat Kantor Bupati Madja ketika itu, atau dari jalan utara alun-alun menuju ke barat ke arah pasir Kopo (yang banyak jambu kopo ketika baheulanya).
Alun-alun Majalengka (Maja?) jaman Belanda
Kalau yang ini sih Gunung Bongkok (Gunung Sela) sekarang, dilihat dari perbatasan Haurbuni (Haurduni ceuk letah ayeuna teh!) dan Banjaran, Maja.
Gunung Bongkok (Gunung Sela) dari Arah Barat (Haurbuni-Banjaran)
Yang berikut ini “kereta pos” Majalengka-Kadipaten. Lucu juga, ya, bentuk “kahar” alias “dokar”-nya. Nah, selain itu, kantor pos dan telegraf (“Hulppost en Telegraaf Kantoor”) ini kira-kira di sebelah mana kota Majalengka sekarang? Bisa dibuat “maket” duplikatnya, ya. Terus di simpan di Museum Majalengka (bukan Museum Sindangkasih, atuh, “teu kaci”–Hehehe. Memang kota Majalengka aslinya kota Sindangkasih? — Silakan baca “Kabupaten Majalengka: Melacak Jejak Hindia Belanda” di blog ini juga!)
Kereta pos Dinas Pos Pemerintah jalur Majalengka-Kadipaten
Berikut contoh-contoh perangko “Majalengka” dari jaman Belanda (“Nederlandsch Indie”), maksudnya perangko yang digunakan untuk memposkan surat dari Kantor Pos Majalengka. Tertemukan lagi koleksi perangko jaman Belanda itu (15 Januari 2011) yang dicap stempel pos dari Kadipaten.
Perangko Pos Majlengka
Perangko Pos MajelengkaPerangko Nederlandsch Indie cap pos Majalengka
Perangko Kadipaten 14-11-1923
Yang berikut ini “kebun tebu” yang “padat tenaga kerja” yang terletak di antara Majalengka dan Rajagaluh. Ini foto tahun 1935.
Hamparan kebun tebu di antara Majalengka dan Rajagaluh sekitar tahun 1935.
Nah, ini konon rumah sakit Majalengka baheula pisan. Tahun 1925. Ini juga kira-kira di sebelah mana dari kota Majalengka sekarang, ya? Apa yang di Jalan Kesehatan (dari Toko Potret A BOK ke kiri kalau dari Kadipaten, ke kanan kalau dari Maja) sebelum dibangun jadi gedung?
Rumah sakit Majalengka jaman Belanda
Nah, yang ini jembatan Tjimanoek di Kadipaten, juga jaman Belanda. Memang sekarang sudah berubah? Belum, ya. Aslinya “penyebrangan” — menyebrangi sungai Cimanuk dari Sumedang ke Cirebon dan sebaliknya di Karangsambung yang disebut-sebut dalam besluit Kabupaten Maja di mana, ya?
Jembatan Cimanuk di lintas jalan raya Priangan – Cirebon dekat Kadipaten
Jembatan Cimanuk Sumedang-Kadipaten 1946-1950
Yang belum tertemukan adalah foto-foto kuno  “Fort Tomo” alias pelabuhan sungai Tomo yang pasti ada di sekitar jembatan ini.
Nah, yang ini bendungan Cigasong tahun 1918, kiriman Tatang Gustawan (hatur nuhun).
Mobil di Majalengka kepunyaan Tan Ho Goan berfoto bersama Tjio Tin Lan dan saudara perempuannya
(Sopirnya siapa, ya?)
GOENOENG CHAREME DAN “ANAK-ANAKNYA”
Ini ada peta “kuno” (tapi sudah ejaan baru–agak aneh). Peta ini tentang Gunung Ciremay dan anak-anaknya. Gunung Bongkok ternyata resmi disebut Gunung Sela. Selain itu di atasnya ada Gunung Pucuk. Desa Tegalsari belum tersebut, yang masih ada nama Tegalacawel (Tegalcawet). Cikebo malah masuk dalam peta sebagai sebuah “desa.” Yang termasuk membuat bingung, antara Cicalung dan Maja ada desa Cileungsing. Ini Paniis? Kenapa disebut Cileungsing? Banyak leungsing, pasti. Tapi kapan diubah jadi Paniis? Atau, masih ada kampung Cileungsing sampai sekarang?
Lainnya bisa lihat sendiri. Klik untuk membesarkan.
Peta Gunung Ciremay
Bandingkan dengan peta di bawah ini.
Peta Kabupaten Majalengka, 2010
TALAGA
Ihwal Kerajaan Talaga, baca di kaca (“page”) khusus dengan judul itu. Ini kisah jaman Belanda. Pertama-tama kita lihat foto-fotonya dulu. Nah ini foto situ Sangiang. Eh, ternyata bule-bule Belanda juga senang ya nongkrong-nongkrong di Situ Sangiang (“meer van Sangiang“).
Situ Sangiang 1918
Bule-bule Belanda di Situ Sangiang Talaga, 1918
Nah, ini foto bule-bule Belanda pulang dari Situ Sangiang ke Talaga. Enak ya, ditandu.
Pulang dari Situ Sangiang Menuju Talaga, 1918Naik tandu pulang dari Situ Sangiang ke Talaga, 1918
Nah, foto yang satu ini orang Talaga paling tahu. Pemandangan ke lapangan luas (hamparan sawah) di Talaga. Sebelah mana, ya?
Hamparan Sawah Tampak di Talaga, Majalengka, 1918Pemandangan hamparan tanah (sawah) luas di Talaga, 1918
TENTARA BELANDA DI MAJA
Nah, ini kisah tentara Belanda (Brigade H) di Majalengka (yang disebut-sebut: Tonjong, Majalengka, Maja, Argalingga).
BRIGADE-H Belanda yag pernah di Maja, Argalingga, Tonjong, MajalengkaLambang Brigade-H Belanda
Op 26 november 1949 werd het 1e peleton, samen met een peloton mitrailleurs van 43 ZMC, gelegerd te Madja, gelegen aan de voet van de berg Tjereme. Twee dagen later werden tien man van het 2e peloton gelegerd op de post Argalingga om toezicht te houden bij de ontmanteling van de daar gelegen suikerrietplantage. [Pada tanggal 26 Nopember 1949, Peleton I, disertai peleton senapan mesin 43ZMC, bermarkas di Maja, di kaki gunung Ciremay.  Dua hari kemudian, sepuluh orang dari Peleton II bermarkas di Argalingga untuk mengawasi perkebunan tebu di situ--bukan teh?--Pen.].
Gunung Ciremay: Di kakinya Brigade H-Belanda bermarkas (1949-1950)
Op 5 december voegde het restant van het 2e peloton zich bij de groep te Argalingga. Twee dagen later werd de post Argalingga opgeheven, waarna het gehele 2e peloton werd overgebracht naar Cheribon (Kosambi kazerne). Op 15 december werd ook de post Madja opgeheven en werd het 1e peloton teruggenomen op Madjalengka waar ook de staf en het 3e peloton nog gelegerd waren. [Pada tanggal 5 Desember sisa pasukan Peleton II bergabung ke Argalingga. Dua hari kemudian pos Argalingga dipindahkan. Seluruh anggota pasukan di Argalingga dipindahkan ke markas Kosambi Cirebon. Pada tanggal 15 Desember seluruh pasukan yang ada di Maja ditarik kembali ke Majalengka, bergabung dengan pimpinan Brigade dan anggota Peleton III yang ada di sana].
Ini ceritera lain sih, bukan lanjutan Brigade H. Konon, menurut pengalaman prajurit Belanda, malam-malam, dalam kegelapan, tentara Belanda patroli. Tak tahunya, paginya, diketahuilah bahwa tempat patroli itu ternyata pekuburan. Hiy . . . . Ini di Madjalengka, tapi Madjalengka sebelah (desa, kecamatan) mana, tak jelas.
Tempat malam-malam tentara Belanda patroli, tapi tak tahu itu kuburan. (Kompleks pekuburan di derah … Majalengka)
BANTARUJEG
Nah, orang Bantarujeg juga kebagian terlacak “jaman baheulanya.” Ini pengalaman seorang tentara Belanda (Leo Mossink) yang diceriterakannya bagaimana ia “berkelana” di Jawa Barat. Termasuk ke Cikijing, Talaga, dan juga Bantarujeg. Kisahnya dimuat dalam website para veteran tentara Belanda di Indonesia. Kisahnya saya nukilkan (dalam bahasa Belanda, tentu) di bawah.
Ini salah satu koleksi fotonya. Terpampang wajahnya di dekat jembatan bambu yang membentang di jalan antara Talaga dan Bantarujeg. Tidak tahu pasti apakah itu jalan raya Talaga Bantarujeg, atau jalan lain, tapi jelas disebut antara Talaga dan Bantarujeg.
Tentara Belanda di jembatan bambu antara Talaga dan Bantarujeg, tahun 1947-an
Yang satu lagi juga ceritera tentara Belanda tadi. Pasukannya terjun payung di Bantarujeg. Hayo, urang Bantarujeg, di lapangan mana tentara Belanda ini padaterjun?
Tentara Belanda terjun payung di Bantarujeg, 1947-an
Nah, masih dalam ceritera tentara Belanda yang “jalan-jalan” ke Cikijing, Talaga, dan Bantarujeg, ada peta Jawa Baarat yang dipasang di ceriteranya. Nah, coba cari ada tidak Bantarujeg di situ. Hehe… Sayang, karena mungkin peta itu aslinya berwarna, lalu ketika ia muat jadi hitam putih, jadinya tak begitu jelas, ya.
Peta Jawa Barat jaman Belanda
Nah, ini cuplikan kisah Leo Mossink dimaksud. Diindonesiakan rada kira-kira saja, intinya.
Geschiedenis trekt zo zijn sporen – Leo Mossink (2000—dimuat dalam “7 December Divisie – Indië-veteranen website” Agustus 2010)
Tjikidjing
Uitgeleide gedaan door bijna de hele kampongbevolking van Pasirwangi ging het richting Soemedang, een bergachtig gebied via de Nagregpas. Men wilde in één dag naar onze nieuwe post Tjikidjing. Het was een zware tocht vooral met de carriers. Dat gaat niet zo snel. Warm gelopen motoren, wachten op afkoeling en op het laatst ook slepen tot de eerstvolgende post van het bataljon. [Kami diantar oleh hampir seluruh penduduk Kampung Pasirwangi Sumedang meneruskan perjalanan melalui perbukitan Nagreg. Kami diharapkan dalam satu hari sudah sampai ke pos baru kami di Cikijing. Itu perjalanan yang melelahkan dalam karir kami sebagai tentara. Ternyata perjalanan tidak mulus. Kendaraan kepanasan, sehingga kami harus menunggu sampai mesin dingin lagi, baru meneruskan perjalanan kami ke pos kami yang baru].
De laatste 30 kilometer was het wegdek verschrikkelijk slecht, vol met gaten en ontzettend stoffig. Dit gebied waren we tijdens de 1e actie in 1947 ook door gereden. „s Avonds om half 9 waren we, moe en heel erg stoffig, in Tjikidjing. Tot overmaat van ramp was er geen water om ons te “mandiën” (het juiste woord in het Maleis is mandi, dat betekent baden, maar bij ons was het altijd “mandiën”.) Gelukkig begon het wat later te regenen, een heerlijke tropische bui, en konden we buiten genieten van een heerlijke douche. Moe, maar schoon, heb ik die nacht lekker geslapen [Tiga puluh kilometer terakhir menjelang tujuan, perjalanan benar-benar memayahkan, jalanan penuh batu dan debu. Tempat yang kami tuju dalam "Aksi I tahun 1947" ini pun belum dipersiapkan. Pukul 8.30 malam kami baru sampai di Cikijing. Celakanya, di markas tidak ada setetes pun air untuk kami "mandien" (kata Melayu yang tepat sebenarnya mandi, artinya membersihkan tubuh, tetapi kami membelandakannya menjadi "mandien). Untunglah tak lama kemudian turun hujan, iklim tropis yang menyenangkan, sehingga kami bisa menikmati mandi gerujugan ("shower") di luar dengan air hujan. Karena kelelahan, tetapi tubuh sudah bersih, malam itu jadinya kami bisa tidur lelap].
De temperatuur was daar wat hoger dan in Pasirwangi, zodat we met een deken minder konden volstaan. Het was de bedoeling dat we daar een paar weken zouden blijven. Het ligt in de buurt van de berg Tjeremai. Het gebied waar wij zaten was gelukkig tamelijk vlak. Toch hebben we in de korte tijd dat we er zaten zware patrouilles gemaakt, een keer zijn we zelfs 17 uur onderweg geweest [Suhu di Cikijing lebih tinggi dari di Pasirwangi, sehingga satu selimut tidak cukup untuk kami. Padahal kami rencananya akan berada di situ dalam beberapa minggu. Daerah itu berada di kaki Gunung Ceremai. Areanya relatif membuat kami senang, karena datar. Akan tetapi toh kami harus melakukan patroli yang berat, tidak kurang dari 17 jam di perjalanan sekali patroli].
We zaten daar in het seizoen van de natte moesson. De wegen waren niet verhard, het leek wel een soort rode klei. Het was dan vooral ‟s nachts geen lolletje om er op uit te moeten [Kami berada di sana di musim penghujan. Jalan-jalannya tidak beraspal, lebih berupa tanah lempung merah. Ketika malam kami tak bisa ke mana-mana mencari hiburan].
Talaga
Drinken badwater moesten we in Talaga halen. Daar was ook de staf van de mortiercompagnie gelegerd.  Mijn vriend Han van Doorn lag daar ook. Ik was met hem bevriend geraak toen we beiden in het staf peloton zaten. Toen dat peloton opgeheven werd ging hij naar het 12e en ik naar het 14e peloton. Af en toe kwam ik in Talaga om naar de Mis te gaan of ook om water te halen en dan zocht ik hem op.  De aalmoezenier kwam af en toe in Talaga. De dienst werd gehouden in een van de kamponghuizen, voor alle in de buurt gelegen katholieke militairen [Di Talaga kami mau tidak mau harus meminum juga air yang sama yang dipergunakan untuk mandi. Di sana bermarkas pula kompi senjata berat. Teman saya, Han van Doorn, juga ada di sana. Kami dulu bersahabat karena masuk dalam peleton yang sama. Ketika ada perubahan anggota peleton, kami berpisah, ia masuk ke Peleton XII, sementara saya masuk ke Peleton XIV. Saya kadang-kadang harus ke Mes Talaga untuk mengambil air minum, dan saya sering berjumpa dia ketika itu. Pendeta Katolik kadang-kadang datang juga ke Talaga. Pelayanan dilaksanakan di salah satu rumah orang kampung bagi semua anggota yang beragama Katolik].
Madjelengka
In Madjelengka was de bataljonsstaf gelegen. Dat was ongeveer 1½ uur rijden van ons kamp. Het hele bataljon was nu in dat gebied rond Madjelengka geconcentreerd [Di Majalengka bermarkas anggota batalion. Dari markas saya di  Cikijing perjalanan ke sana sekitar satu setengah jam. Seluruh anggota batalion sekarang semuanya bermarkas di sekitar Majalengka].
Nieuw uniform [Seragam Baru]

We kregen daar een pyjama, dat was nog nooit gebeurd, en ook een nieuw kaki uniform. De maat klopte voor geen meter. In de kampong zat een kleermaker die heb ik gevraagd het uniform passend te maken. Daar deden mijn collega‟s nogal smalend over, maar toen ze het resultaat zagen kreeg de kleermaker meer klandizie. Aan Coby heb ik echter moeten vragen in Holland een leeuw embleem en een EM-badge te willen kopen en op te sturen De kleermaker heeft ze op de mouwen genaaid. In het leger waren die badges niet beschikbaar, maar nu was het uniform toch compleet. We hebben tot eind november 1948 in Tjikidjing vertoefd [Di Majalengka kami mendpat satu stel piyama,  sebelumnya tidak pernah ada pembagian piyama, juga mendapat satu stel seragam pakaian "kaki." Sayang ukurannya tidak pas. Di kampung ada tukang jahit yang bisa saya minta mengepaskan seragam saya.
Bantaroedjeg
Daarna zijn we naar Bantaroedjeg gegaan. Dat was een post waar we niet met vervoer konden komen. Tussen Talaga en Bantaroedjeg was een brede kali. De brug die er over gelegen had was opgeblazen en nog steeds niet hersteld of vervangen door een baileybrug [Kami lalu pindah ke Bantarajeg. Di pos ini kami tidak punya alat transportasi. Antara Talaga dan Bantarujeg terdapat sebuah "kali" yang lebar. Jembatan yang ada di atas kali tersebut hancur dan belum dibetulkan atau dibuatkan jembatan bailey].
Een kilometer of zes richting Bantaroedjeg was in dezelfde weg over een brede kali een bamboe loopbrug aangebracht. Vervoer kon dus tot de kapotte brug, vervolgens met het materiaal lopend naar de andere kant van de loopbrug. Daar stonden dan carriers te wachten waarmee we naar het kamp reden. Als er wat gehaald of gebracht moest worden uit of naar Talaga, moest dat op deze omslachtige manier gebeuren. Dat nam heel wat tijd in beslag.
Wij losten daar het 12e peloton af. Zij lieten hun transportmiddelen in Bantaroedjeg achter, wij het onze in Talaga. Hoe dat rijdend materiaal in Bantaroedjeg gekomen is, is me altijd een raadsel gebleven. We werden bevoorraad vanuit de lucht. Op gezette tijden kwam er een Dakota over die grote pakketten aan parachutes uitwierp met daarin courage en allerlei andere bestelde benodigdheden en onderdelen. Ook benzine en olie voor de carriers.
Het was daar veel patrouille lopen. Gelukkig niet zulk zwaar terrein. Om een zo groot mogelijk gebied te kunnen bestrijken, brachten we met de carriers de jongens zo ver mogelijk het gebied in. Plaats van ophalen en tijd werd afgesproken. De twee carriers gingen met de chauffeur en één man bewaking terug naar het kamp om dan later de jongens weer op te halen.

Sumber : tatangmanguny's blog

No comments:

Post a Comment