Orang dibuat percaya dan yakin bahwa di Kabupaten Majalengka sekarang itu dahulunya ada kerajaan Sindangkasih, karena legenda yang dibuat entah oleh siapa.Legenda itu sebuah dongeng yang dikaitkan dengan fenomena alam (dan nama-nama) tertentu. Nama Majalengka itu asing di telinga orang Sunda. Ada nama yang mirip, bahkan sering salah ditangkap orang non-Sunda, yaitu Cicalengka, tapi itu bukan “lengka” melainkan “calengka” (tidak tahu saya apa artinya, mungkin kicalengka, semacam tetumbuhan). Karena nama itu asing, maka dibuatlah “kiratabasa,” mengira-ngira, menafsiri makna sesuatu kata. Yang terdekat dengan kata “lengka” adalah kata “langka” dalam bahasa cirebonan, bukan langka bahasa Indonesia atau jogjaan (longko = jarang atau jarang sekali). Kebetulan, ada “fakta sejarah” yang sudah sangat amat lama sekali terjadi di masa Belanda sehingga tidak diketahui pasti oleh orang-orang pasca kemerdekaan, yaitu pendirian kota Majalengka di derah Sindangkasih. Maka disusun-digubahlah ceritera legenda Sindangkasih berubah jadi Majalengka, karena “buah maja” yang “langka” (dimaknai hilang).
Sindangkasih disebut-sebutlah sebagai suatu kerajaan (mungkin berbaur dengan ceritera babad Ki Gedheng (Gedhe ing) Sindangkasih (Sedhangkasih –>sedhang = sendang, kolam mata air) yang punya anak bernama Nay (Nyi) Ambet Kasih, di Beber Cirebon sekarang. Sindangkasih Beber diduga dulunya merupakan pelabuhan sungai  (konon ada bekas-bekasnya) yang mengarah ke Kanci sebagai pelabuhan laut. Diduga pula dari Sindangkasih inilah Raja Pajajaran berlayar menuju Majapahit mengiring Dyah Pitaloka untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Ini sama dengan dugaan saya desa Palabuan, dekat Sukahaji dan Rajagaluh, tadinya memang pelabuhan sungai Cikeruh menuju Loji (bangunan Belanda–bisa berarti tempat menginap) menyambung ke Cimanuk.
Ihwal kerajaan Sindangkasih Majalengka itu, tanpa jelas asal-usulnya, tahu-tahu populer dipimpin oleh seorang ratu yang amat sangat cantik berambut mayang mengurai. Karena rambutnya yang indah itu maka ia bergelar (bernama) Nyi Rambut Kasih. Kadang kala disebut juga Nyi Ambet Kasih, seperti anaknya Ki Gedheng Sindangkasih Beber. Tapi, ada ceritera pula bahwa Nyi Ambet Kasih itu nama isteri  Talaga Manggung (Tumenggung Talaga) di Kerajaan (kecil–bawahan Galuh-Pajajaran, alias ketumenggungan) Talaga. Ini foto patungnya dari Wikicommons, menggandeng dua anak lelaki dan perempuan (Raden Panglurah dan Dewi Simbarkancana–?).

Patung Ambet Kasih dari Talaga (isteri Prabu Talaga Manggung  atau Tumenggung Talaga)
Saya menduga nama Talaga Manggung itu sebenarnya Tumenggung Talaga. Dalam babad dan kata-kata “sastera” lainnya, kerap kali dibalik-balik dari namanya dulu baru gelarnya. Perhatikan “Sumpah Palapa” Gajah Mada ketika diangkat sebagai Patih Amangkubumi Majapahit berikut yang dimulai dari nama dulu, baru jabatannya. (Harusnya tertulis Gajah Mada Patih Amangkubhumi—aslinya Patih Amangkubhumi Gajah Mada).
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantaraisun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Seebutan Tumanggung bisa saja dipotong hanya “manggung”-nya saja, seperti sebutan “adipati” dalam babad kerap kali hanya disebut “pati” saja. Ini contohnya dari Babad Pati (Kabupaten Pati, Jawa Tengah)
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam Pisuanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K. M. Sosrosumarto dan S. Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada: 12 yang lengkapnya berbunyi: ……………………………… Tambranegara Pati “Sumewo” maring Majalengka Brawijaya kedua. (Adipati Tambranegara “sumewo” atau “sowan” alias menghadap ke Kerajaan Majalengka alias Majapahit  — saat itu yang menjadi raja adalah– Brawijaya II).

Tambranegara Pati itu dalam tuturan lugas keseharian sebenarnya dimaksudkan Adipati Tambranegara. Jadi, mungkin saja dalam berbagai babad Talaga tertuliskan Talaga Manggung ……, sementara yang dimaksudkan adalah Tumanggung Talaga …… (Raffles menuliskannya Tumungggung de Telaga). Dalam contoh di atas ada “Tambranegara Pati ….” (Tambranegara Adipati —> Adipati Tambranegara …..). Jika ceritera Tumanggung Talaga itu dibuat dalam pupuh yang akhirannya “u” maka mungkin akan terucapkan (tertuliskan) menjadi “Talaga Manggung”, misalnya: “Kakocap talaga ‘manggung/angadeg nata narpati/rumeksa bumi talaga/… (misal, lho!).
Manggung bahasa Sunda kuno (pertengahan, bukan modern) mengandung arti pula atas (modern “luhur” atau “girang”). Bisa juga istilah Talaga Manggung itu karena di “Talaga” itu ada dua talaga, talaga di bawah dan talaga di atas. Kerajaan Talaga didirikan di dekat talaga manggung, talaga yang di atas (talaga Sangiang), bukan talaga “ranca” atau “rawa” antara Talaga, Cikijing, Cingambul, Rawa, Nagarakembang (nagara kambang; nagara, desa atau kota yang kumambang, mengambang, di rawa).
Kembali ke Sindangkasih. Kerajaan Sindangkasih ketika itu masih beragama Hindu. Oleh karenanya maka Sunan Gunung Jati (Cirebon) berkehendak mengislamkannya. Karenanya diutuslah Pangeran Muhammad beserta pasukannya (mau pakai perang, ya!??) ke Sindangkasih untuk menghimbau Nyi Rambut Kasih memeluk agama Islam.
Versi lain menyebutkan bahwa di kerajaan Sindangkasih itu ada buah maja (tidak jelas apakah hanya beberapa butir atau sangat amat banyak hutan maja–pasti sampai ke daerah Maja, kalau di Kulur yang banyak kelewih atau sukun alias kelewih tanpa biji). Orang Cirebon banyak yang menderita sakit. Konon obatnya hanya buah maja itu (Buah maja memang cocok untuk mengobati sakit malaria). Nah, jika ini jalan ceriteranya, pasti buah maja itu hanya ada di Sindangkasih, dan hanya ada satu atau beberapa butir saja. Orang Cirebon (baca Sunan Gunung Jati) mengutus Pangeran Muhammad untuk meminta tolong Ratu bisa kiranya memberikan buah maja itu.
Ah, jadi tak jelas: diutus untuk meminta buah maja atau mengislamkan penduduk Sindangkasih. Pabaliut! Lieur!
Konon Ratu Rambut Kasih  jatuh cinta pada Pangeran Muhammad yang ganteng. Karena Pangeran Muhammad sudah bersitri (Siti Armilah, konon putri ulama Sindangkasih juga), Pangeran Muhammad tentu menolak (tak mau ia poligami). Nyi Rambut Kasih pun juga tak mau masuk Islam. Atau Ratu tak mau memberikan buah maja (marah kali, ditolak Pangeran Muhammad). Maka lalu ia menghilang beserta buah maja yang dikehendaki Pangeran Muhammad itu. Nah, tambah pabaliut tidak karuan alang-ujurnya, karena Ratu menghilang sebab musababnya apa? Ini sebab dimintai buah maja, tapi ditolak menjadi isteri Pangeran Muhammad, apa sebab tak mau daerahnya diislamkan! Tambah pabaliut  lagi kan sudah ada ulama di Sindangkasih, ayahnya Siti Armilah. Ngapain pula Sunan Gunung Jati usil mau mengislamkan Sindangkasih?! Kan Siti Armilah muslimah Sindangkasih, ngapain pula Pangeran Muhammad diutus mengislamkan Sindangkasih, padahal dia “orang Sindangkasih” (walau menantu ulama Sindangkasih dan suami muslimah Sindangkasih)?!
Lanjut ceritera, orang-orang Cirebon keesokan harinya kaget, BUAH MAJA hilang, Ratu juga dan keratonnya hilang. Maka mereka berteriak, “majae langka……, majae langka!” Bikin bingung orang. Kenapa yang diteriakkan itu buah maja yang hilang, bukan ratu yang hilang? Memang amat perlu buah maja, apa amat perlu mengislamkan Ratu?!! Atau, apa yang terlihat hilang itu buah maja, apa keraton, apa Ratu? Lebih tidak puguh lagi, kenapa kata-kata yang keluar dari Wong Grage itu kok langka (beli nana, euweuh, tidak ada), bukan ilang (hilang, leungit). Harusnya mereka teriak, “majae ilang, keratone ilang, ratune ilang!!!” Entahlah. Namanya juga legenda, kisah yang mengikuti keadaan alam setempat. Karena nama “majalengka” tidak dikenal dalam bahasa Sunda, “dikiratabasa”-kan (dikira-kira dari bahasa) itu dari kata maja-langka (maja beli nana, yang disamakan oleh orang “Majalengka” sebagai ilang). Padahal—seperti tampak dari babad Pati, Majalengka itu Majapahit (lengka itu pahit).
Andaikata urang Majalengka yang membuat legenda itu tahu arti kata aslinya lengka (leng dibaca dalam lengkap, bukan dalam lenggang) dari bahasa Sunda/Jawa kuna yang berarti pahit, legenda itu tak kan muncul. Yaqqiin! Majalengka itu majapahit atawa majalangu (dalam bahasa Sansekerta disebut vilvatikta, dibaca wilwatikta–vilva atau bilva yang tikta atau lengka atau langu atau pahit itu buah maja alias berenuk–yang manis namanya majalegi). Kerajaan Majapahit itu suka disebut pula Majalengka atau Wilwaktikta atau Majalangu. Simak tulisan di bawah.
Ini dari Babad Demak Pesisiran (ada nama Majalengka, ada Majalangu, yang jadi raja antara lain yang bernama Brawijaya– kita tahu, itu raja Majapahit).
۩۩۩ 48 ۩۩۩
Raden Suruh jumeneng aji, ing negara Majalengka, Berawijaya jejuluke, apeputera Berakumara, gumati ing Majalengka, Beraku /15/ mara asesunu, ingkang nama Araden Wijaya. (Raden Suruh naik tahta jadi raja di negara Majalengka dan kemudian bergelar Brawijaya, lalu berputrakan Brahmakum(b)ara, juga menjadi raja Majalengka, yang kemudian berputrakan Raden Wijaya).
 ۩۩۩ 49 ۩۩۩
Araden Wijaya sesiwi, kang nama Kartawijaya, Kartawijaya puterane, kang nama Anggawijaya, punika ingkang wekasan, ngadeg perabu Majalangu, tunggal nama Berawijaya. (Raden Wijaya berputrakan Kartawijaya, dan Kartawijaya berputrakan Anggawijaya, inilah yang paling akhir, bertahta di Majalangu, sama-sama bergelar Brawijaya).
 ۩۩۩ 50 ۩۩۩
Sigegen nata Majapahit, kocapa nata ing Cempa, raja Kunthara namane, ratu kapir binethara, merentah Kujing negara, Kalicare lan Kalikut, Gur lawan Mulebar. (Kita tinggalkan raja Majapahit, tersebnut raja di Campa, raja Kunthara namanya, raja kafir membetara, memerintah negara Kujing, Kalicare dan Kalikut (Kalkuta?), Gur, dan Mulebar).
Jelas, kan? Majapahit sama dengan Majalengka sama dengan Majalangu. Majalengka teh artinya maja pahit, kata urang Sunda buah maja nu pait. Pastilah yang paling banyak buah maja yang pait (berenuk! — ada maja yang manis, mojolegi kata orang Jawa) di daerah Maja (Loh Maja, Luh Maju), bukan di Sindangkasih. Ngapain Pangeran Muhammad “memaksa” meminta buah maja di Sindangkasih? Kenapa tidak ke Maja, ke Dalem Lumaju Agung (Dalem Lohmaja Agung)?
Peristiwa menghilangnya keraton, ratu, dan buah maja di Sindangkasih itu ditengarai dengan candrasangkala “Sindang Kasih Sugih Mukti.” Yang empunya ceritera mengatakan dengan tegas bahwa sejak saat itu ada candrasangkala seperti itu. Dan yang empunya ceritera dengan tegas pula menyebutkan bahwa sejak saat itu Sindangkasih berubah jadi Majalengka karena ada teriakan “majae langka” itu tadi.
Candrasangkala itu simbul peristiwa (tahun kejadian) yang disandikan dengan kata-kata. Kata-kata itu mengandung makna angka tertentu. Kata “pandawa” misalnya, melambangkan (bermakna) lima, karena pandawa itu ada lima. Kata bumi melambangkan angka satu, karena bumi itu hanya ada satu. Kata ilang atau sirna melambangkan angka nol alias kosong (ilang, sirna itu kosong, tiada). “Sindang kasih sugih mukti” itu sindang = 2, kasih = 1, sugih = 4, mukti = 1. Dibaca terbalik dari kanan (dari mukti) menjadi 1412. Itu menunjukkan tahun Saka atau tahun Jawa. Untuk jadi tahun Masehi ditambahi angka 78, jadi tahun 1490.  Apakah pengangkaan itu benar, agak sulit saya menentukannya.
Kalau disebut candrasengkala itu biasanya terkait dengan tahun yang mempergunakan peredaran bulan (candra) sebagai patokan, jadi tahun Jawa atau tahun Saka. Jika menggunakan peredaran matahari (disebut sengkalan saja), maka sindang  akan berarti 0, kasih = 9, sugih = 4, mukti = 1. Konon, saat tahun itu Sindangkasih takluk pada Cirebon, dan berganti nama menjadi Majalengka (dari asal muasal teriakan “majae langka“). Yang lucu, Sindangkasih ganti nama jadi Majalengka, tapi candrasengkalanya malah sugih mukti, dan yang sugih mukti itu Sindangkasih, bukan Majalengka!
Ketika wibawa negara majapahit mulai runtuh, persitiwa itu ditandai (ditetengeri) dengan candrasengkala “ilang sirna krtaning bhumi“. Ilang = 0, sirna = 0, krta (kerta, karta, raharja, sejahtera) = 4, bumi = 1. Dibaca dari belakang 1400 (tahun Saka atau tahun Jawa). Tahun masehinya dintambah 78 = 1478M. Tahun itu bhumi Majapahit (Majalengka atau Majalangu) hilang sirna kertanya, keraharjaan kesejahteraannya. Majapahitnya masih ada, tapi sudah terpecah-belah karena perebutan antar keturunannya.
Jadi, jika Sindangkasih sudah “hilang,” berganti jadi Majalengka, tak logis tak masuk akal candrasangkalanya “sindang kasih sugih mukti”, pasti harus “sindang kasih malih jati ” (tapi simbul tahunnya jadi kacau balau!). Enakan ganti dengan sengkalan  “Gapuraning sujanma hangasta rasa,” gerbang awal mula atau pintu lewat utama atau masa memulai,  “sujanma”, orang-orang berbudi atau insan kamil  “menangani” mengangkat harkat dan ketenteraman batin); gapura = 9, sujanma = insan utama = 1, hasta, angasta (to manage, to handle) = 8, ras (kalbu, hati nurani, jiwa, suksma, batin) = 1 –> dibaca dibalik = 1819 M. Itu mulai adanya Kabupaten Maja (5 januari 1819) yang kemudian berubah nama jadi Kabupaten Majalengka. “Sujanma” itu mengandung arti kelahiran atau yang dilahirkan, berarti pula makhluk atau manusia. “Yang dilahirkan” itu bisa berarti Kabupaten Maja yang kemudian jadi Majalengka. Jadi bisa pula bermakna gapura atau pintu gerbang yang baru dilahirkan (Kabupaten Maja) untuk “hangasta”, mengelola, mengurus, menata, rasa batin kepuasan hidup “hurip” seluruh warga masyarakatnya.
“Rasa” (kalbu, hati nurani) yang diangkat dijunjung itu bisa pula melambangkan historis  rasa keadilan pendirian Kabupaten Maja. Dipilih Maja, padahal sebelumnya ada Sindangkasih, ada Rajagaluh, ada Talaga, dan ada juga Kadongdong serta “Palimanan” sebagai “daerah-daerah besar bersejarah di dalam Kabupaten Maja (lihat kopi paste catatan Belanda di bawah),  tapi tak satu pun dijadikan nama Kabupaten. Ini dilakukan  agar tidak ada satu pun “para penguasa wilayah besar” tadi yang “protes” (seperti kisah Muhammad mendapatkan gelar al-Amin, karena dipercaya bisa adil, dan benar-benar adil membuat semua kabilah merasa sama-sama punya harkat derajat yang sama untuk mendapatkan kemuliaan menempatkan kembali Hajar Aswad di Ka’bah). Di masa datang diharapkan “rasa” (adil–keadilan sosial, tentram, sejahtera, bertakwa) itu pula yang jadi tujuan utama Kabupaten ini. Ah, itu kata saya! Hehehe…. Mungkin sengaja desa Maja dijadikan ibu kota karena udaranya sejuk, lebih cocok untuk orang Belanda. Bekas kantor kabupatennya dulu suka disebut “pasanggrahan” (bukan desa Pasanggrahan Maja), karena tampaknya suka dipakai oleh tuan-tuan Belanda Majalengka menginap mencari kesejukan.
Ini dinukilkan “berita” (ceritera) distrik-distrik yang ada di Kabupaten Maja (yang kemudian, seperti dicatat di bagian bawah naskah tersebut berganti nama jadi Kabupaten Majalengka).

Apakah Sindangkasih Majalengka itu Ada?
Pertanyaan pokok kita adalah apakah memang kerajaan Sindangkasih itu ada sebelum ada Kabupaten Majalengka.  Kerajaan Majalengka dalam sejarah tidak pernah tercatatkan ada. Tidak ada bukti apapun tentang keberadaan kerajaan yang bernama Majalengka di Kabupaten Majalengka sekarang.
Yang pertama-tama harus diyakini sebagai kebenaran ilmiah adalah bahwa nama Majalengka itu pertama ada adalah sebagai nama Kabupaten (11 Februari 1840) yang merupakan perubahan dari nama Kabupaten Maja (berdiri 5 Januari 1819), dan sebagai nama ibu kota kabupaten baru tersebut (juga terhitung 11 Februari 1840) sebagai perubahan nama dari nama ‘tempat” (daerah) yang tadinya bernama Sindangkasih, yang sebagiannya dijadikan tempat kedudukan (ibu kota) Kabupaten Majalengka. Kota Majalengka bukan perubahan kota Sindangkasih, melainkan tadinya “daerah” Sindangkasih, karena “kota” Sindangkasih tetap ada sampai sekarang.

Jadi, Sindangkasih di Majalengka itu ada. Hanya saja keberadannya itu semula sebagai apa, itu yang sampai sekarang masih menjadi misteri yang belum bisa terungkap dengan jelas. Jelasnya, apakah Sindangkasih itu hanya sekedar sebagai desa biasa–seperti sekarang, ataukah memang merupakan suatu “kerajaan.” Kalau sebagai semacam “distrik” harus diakui ada, setara dengan “distrik” Talaga, Rajagaluh dan lain-lain.
Peta-peta Belanda berikut membuat Sindangkasih Majalengka merupakan misteri.

Peta “derah Cirebon” menurut Bellin, 1764.
Pada peta di atas tidak tertampakkan ada “kota” atau kerajaan apapun di “wilayah Majalengka” sekarang, kecuali WATTAS, sementara Indramayu ada. Talaga saja, sebagai sebuah kerajaan (ketumenggungan bawahan kerajaan Galuh-Pajajaran) tidak tertampakkan, padahal Wattas itu diduga di derah Talaga. Wattas (Wates) ada di daerah Talaga, karena di bawahnya (selatan) ada  Koewaling (Kawali), Goloen (Galih, Ciamis) et Imparagara (dan Imbanagara).
Peta derah Cirebon menurut Crawfurd, 1820
Pada peta Crawfurd di atas, yang diterbitkan 1820 (tampaknya sebelum ia tahu ada Kabupaten Maja, 1819) yang tampak di daerah Majalengka hanya Talaga (dan “kota penyeberangan” Karangsambung).
Peta Cirebon sebelum 1819
Pada peta di atas ada beberapa nama daerah di wilayah Majalengka sebelum tahun 1819. Daerah-daerah itu (tercetak dengan huruf-huruf yang lebih besar dari nama “kota”) adalah Kadongdong, Rajagaluh, Sindangkasih, dan Talaga. Jadi, Sindangkasih bisa setara dengan Rajagaluh (dikenal sebagai kerajaan kecil Galuh-Pajajaran) dan juga Talaga. Kadongdong belum diketahui tadinya berupa apa. Pertanyaannya, kenapa Sindangkasih saat itu menjadi sedemikian “besar”? Tadinya memang sebagai “kerajaan kecil”?
Dalam peta itu ada pula beberapa “kota kecil” di jalur jalan raya (jalan pos atau “post weg”) Karangsambung sampai Cirebon, yaitu Baturuyuk, Cikru (Cikro, Cikeruh?), dan Banjaran. Lalu ada Pajagan, Bengawan, dan Plumbon.
Pada dua peta berikut ada Majalengka dan ada pula Sindangkasih. Sindangkasih “salah letak” di utara Majalengka, atau ada Sindangkasih yang lain? Kemungkinan terbesar itu dimaksudkan Maja, tetapi karena berubah nama jadi Majalengka, salah meletakkannya di “lokasi” Maja, karena menduga nama kota Maja berubah jadi Majalengka.
Peta Sindangkasih di Majalengka menurut Weller, 1862
Peta Sindangkasih di Majalengka menurut Banastudel, 1899
Peta Junghuhn Berikut (1842) menegaskan Majalengka itu Sindangkasih (tadinya Sindangkasih, sekarang jadi Majalengka). Tapi, bukan kota Sindangkasih berubah nama jadi Majalengka, karena kota Sindangkasih tetap ada. Majalengka merupakan “daerah” (kota) yang sama sekali baru (berdiri 11 Februari 1840), yang bertempat di wilayah Sindangkasih.
Peta Junghuhn (1842):  Majalengka = Sindangkasih
Perhatikan jalan besar (garis dobel) dari jalan raya (jalan pos–warna merah) dari arah Cirebon ke Majalengka (Sindangkasih) dan Maja, melalui Banjaran dan Rajagaluh. Jalan besar itu merupakan jalan “karesidenan” yang digunakan Residen Cirebon kalau melakukan inspeksi ke Maja sebagai ibu kota Kabupaten Maja sebelum Majalengka (ibu kota Kabupaten Majalengka). Dari Maja ke Talaga jalan kabupaten (satu garis saja). Ibu kota Kabupaten Maja di Maja, bukan di Talaga. Juga salah menyebut ibu kota Kabupaten Maja di Sindangkasih. Sindangkasih (di daerah Sindangkasih) dibuat ibu kota baru, Majalengka. Tidak juga kota Sindangkasih berubah nama jadi Majalengka, Sindangkasih masih tetap ada (dari beberapa peta tertunjukkan seperti itu — dan sampai sekarang, walau hanya menjadi desa kecil saja).
Pada peta-peta berikut (Cirebon 1857) tampak Sindangkasih dalam posisi desa sekarang, selatan Majalengka.
Peta Karesidenan Cirebon 1857
Pada peta Van Bemmelen (1903) Sindangkasih tak ditampakkan, sudah dianggap “kecil”. Yang tampak Jatitujuh, Jatiwangi, Kadipaten, Majalengka, Leuwimunding, Maja, dan Talaga. Rajagaluh juga “hilang.”Masih ada Karangsambung, sebagai “kota penyeberangan” dari Sumedang ke Majalengka dan Cirebon. Di dekatnya ada Tomo yang dikenal sebagai “port Tomo” (pelabuhan sungai).
Peta lebih antik berikut “dicurigai” (karena tulisan tak jelas dan menggunakan “lafal Belanda”) menunjuk Sindangkasih (Cindang…….), sebelah kanan Jati Bosch. Tetapi adanya di sebelah timur sungai Cikeruh (Tjikoro). Di sebelah baratnya (kanan), di hulu sungai Cikeruh ada kota Tjikaro (Cikro, Cikeruh?), dan lebih ke barat lagi ada Jatiraga (Kadipaten).
Dalam berbagai ceritera (bersumber babad dan lain-lain), daerah Sindangkasih pernah diberikan oleh Sumedang (Pangeran Geusan Ulun) ke Cirebon (Panembahan Ratu) sekitar tahun 1585M. sebagai “penukar” penculikan Ratu Harisbaya. Sindangkasih yang mana? Sindangkasih Majalengka sudah ganti jadi Majalengka sejak 1490 (konon!) dan sudah masuk wilayah Cirebon di bawah pimpinan “Bupati Pangeran Muhammad” (konon juga). Masa punya Cirebon diberikan ke Cirebon? Ada kemungkinan itu Sindangkasih Galunggung yang orang Cirebon menyebutnya Sindangkasih. Perhatikan nukilan berikut!
Reorganisasi Priangan kedua, wilayah Priangan dibagi dalam 9 ajeg, yaitu setingkat kabupaten, yaitu :
1. Kabupaten Sumedang,
2. Kabupaten Bandung,
3. Kabupaten Parakanmuncang,
4. Kabupaten Sukapura,
5. Kabupaten Karawang,
6. Kabupaten Imbanagara,
7. Kabupaten Kawasen,
8. Kabupaten Wirajaba (Galuh),
9. Kabupaten Sekace (Galunggung atau Sindangkasih)
Catatan Masa Lalu Kota Banjar Sebuah Kota di Jawa Barat yang berupaya untuk menjadi kota mandiri
Oleh: Euis Thresnawaty S
“Teka-teki” tulisan “Cindang Kasi” dalam peta kuno di atas, yang membuat kita menduga ada Sindangkasih tetapi di timur Cikeruh, terjawab dengan peta berikut (1724-1726).

“Sindangkasih” dalam Peta Jawa 1724-1726
Dalam peta itu ada Karangsambung (“Karangsambang”) dekat sungai Cimanuk (kota ditandai “tugu”), di utaranya ada “Mekgang,”  Balida (“Valida”), dan Panongan (“Panongang”), Randegan (“Ranegara”). Di sebelah timur (kanan) gunung Ciremai (“Berg Sirmey”) ada sungai yang mengalir menyatu ke Cimanuk juga. Di situ ada tanda “tugu” bertuliskan “Cundanlassi”. Nah, jika itu Sindangkasih Beber, kenapa sungainya bermuara ke Cimanuk, bukan ke pantai Kalijaga. Jika itu sungai Cikeruh, kenapa berada di sebelah timur Ciremay. Ada dua gundukan gunung Ciremai  di utara dan di selatan. Di bagian selatan ada Darma (“Derma”) dan Kuningan (“Coeningan”) yang ke utaranya ada Cikaso (“Tsikassoe”), Manis (Maniis), “Tsilaboe” dan “Djati bosch”, lalu Kalitanjung (“Kali Tanjang”). Nah, Sindangkasih yang mana pulakah itu? Adakah sebelum Leuwimunding? Ada nama “Sindanghaji” di dekat Leuwimunding, tetapi itu berada di selatan jalan raya, sementara Cundanglassi adanya di utara jalan raya. Tapi tetap berada di sebelah timur Cikeruh. Jadi? Cundanglassi itu Sindanghaji Leuwimunding, ataukah Sindangkasih Beber? Atau, itu kemudian berubah jadi Panjalin? Misteri yang masih sulit dipecahkan!
Peta Sindanghaji Leuwimunding dan Panjalin 1897-1904

Dibuat 26 April 2012 ; Edit 7 Mei 2013
Sumber : tatangmanguny's blog
Hatur nuhun Pa Tatang M. Amirin